Seribu Bait Seribu Cahaya
EndyNU
Seribu Bait Seribu Cahaya
Seribu bait menari di lidah,
warisan Ibnu Malik nan megah.
Dalam nadzam terurai makna,
tata bahasa jadi cahaya.
Alfiyah, pelita ilmu nan agung,
menyusuri huruf hingga ujung.
Isim, fi’il, dan huruf pun bersaksi,
pada nalar yang diasah santri.
Dari Andalus ilmu berpijar,
ke pesantren ilmunya menyebar.
Dendang baitmu jadi wirid,
di halaqah yang khidmat dan syahid.
Ibnu Malik bukan sekadar penyair,
tapi peletak dasar yang mahir.
Ia rajut kaidah dalam syair,
membuat nahwu jadi elok dan tak kabur.
Dari Jurumiyah ke Imrithi,
Alfiyah jadi jalan suci.
Santri menapaki bait demi bait,
bersama guru yang selalu semait.
Tak hanya hafal tapi paham,
dengan cinta dan adab yang dalam.
Karena ilmu bukan sekadar tahu,
tapi menyatu dalam jiwa yang luruh.
Syarh demi syarh pun hadir,
menjelas bait agar tak kabur.
Ibnu ‘Aqil mengurai benang,
agar makna tak terbuang.
Seribu bait yang tak lekang,
oleh zaman yang terus datang.
Alfiyah hidup dalam dada,
membimbing ke jalan yang nyata.
Wahai Alfiyah, engkau pusaka,
dari ulama untuk umat tercinta.
Takkan redup cahaya ilmumu,
selama santri menjaga nadzammu.
Di setiap baitmu tersimpan cinta,
pada Qur’an, bahasa, dan makna.
Engkaulah syair dalam ibadah,
engkaulah ilmu yang penuh berkah.
Maka kami pelihara baitmu,
dengan lidah, hati, dan ilmu.
Agar warisan tetap lestari,
menjadi pelita sepanjang hari.