Implementasi Makna Pappaseng:Tongeng, Getteng, dan Lempu
Implementasi Makna Pappaseng:Tongeng, Getteng, dan Lempu
Oleh:Zaenuddin Endy
*Ketua DPP Ikatan Alumni Pesantren Modern ( IKAPM) Aljunaidiyah Bone*
Pappaseng yang berbunyi Appatudakki’ awatangeng riase’na Getteng’E, Muappatettong Getteng riase’na Tongeng’E, Na mupatonangngi Tongeng’E riase’na Lempu’E merupakan petuah yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia, khususnya dalam membangun karakter dan prinsip hidup yang kuat. Ungkapan ini mengandung nilai-nilai kebijaksanaan yang menuntun seseorang dalam bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan yang bijak.
Bagian pertama dari pappaseng ini, Appatudakki’ awatangeng riase’na Getteng’E, menekankan bahwa kekuatan sejati harus bertumpu pada keteguhan atau integritas. Kekuatan yang tidak dilandasi oleh keteguhan hanya akan bersifat semu dan mudah goyah. Dalam kehidupan, banyak orang yang berusaha menjadi kuat secara fisik, ekonomi, atau politik, tetapi jika mereka tidak memiliki keteguhan dalam prinsip dan nilai, maka kekuatan itu tidak akan bertahan lama.
Keteguhan dalam hidup seseorang harus memiliki dasar yang kokoh, sebagaimana dikatakan dalam bagian kedua, Muappatettong Getteng riase’na Tongeng’E. Ini berarti bahwa keteguhan yang sejati harus berdiri di atas kebenaran. Keteguhan yang tidak didasarkan pada kebenaran justru akan menyesatkan dan membawa kehancuran. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah seseorang yang teguh pada keyakinannya tetapi tidak didasarkan pada kebenaran, yang akhirnya membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain.
Bagian ketiga, Na mupatonangngi Tongeng’E riase’na Lempu’E, menegaskan bahwa kebenaran itu sendiri harus berdiri di atas kejujuran. Kebenaran tanpa kejujuran akan kehilangan makna, sebab kejujuran adalah inti dari kebenaran itu sendiri. Kejujuran merupakan fondasi utama dalam membangun kehidupan yang adil dan bermartabat. Dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun kepemimpinan, kejujuran menjadi syarat utama dalam menciptakan harmoni dan kepercayaan.
Dalam konteks kepemimpinan, pappaseng ini menjadi pedoman moral yang sangat penting. Seorang pemimpin yang kuat harus memiliki keteguhan dalam prinsip, tetapi keteguhan itu harus bersandar pada kebenaran. Lebih jauh lagi, kebenaran yang dianutnya harus berlandaskan pada kejujuran agar tidak menyimpang dari nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.
Di dalam kehidupan sosial, pappaseng ini juga menjadi panduan bagi setiap individu dalam bersikap terhadap sesama. Kejujuran membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah kunci utama dalam menjalin hubungan yang baik dalam masyarakat. Jika seseorang hidup dengan keteguhan yang didasarkan pada kebenaran dan kejujuran, maka ia akan menjadi pribadi yang dihormati dan dicontoh oleh orang lain.
Pappaseng ini juga mengajarkan bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, seseorang harus tetap berpegang pada nilai-nilai moral yang kuat. Tidak jarang seseorang menghadapi godaan untuk menyimpang dari kebenaran demi kepentingan pribadi atau keuntungan sesaat. Namun, jika ia memiliki keteguhan yang berdiri di atas kebenaran dan kejujuran, maka ia tidak akan mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip moralnya.
Dalam dunia pendidikan, nilai-nilai dalam pappaseng ini sangat relevan untuk diterapkan. Pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter seseorang agar memiliki integritas, menjunjung tinggi kebenaran, dan selalu berpegang pada kejujuran. Dengan demikian, generasi yang dihasilkan adalah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki moralitas yang tinggi.
Dalam dunia bisnis dan ekonomi, prinsip-prinsip ini juga penting untuk diterapkan. Bisnis yang dibangun di atas kejujuran dan kebenaran akan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan dan mitra kerja. Sebaliknya, bisnis yang didasarkan pada kebohongan dan kecurangan mungkin bisa berhasil dalam jangka pendek, tetapi pada akhirnya akan runtuh karena kehilangan kepercayaan dari masyarakat.
Dalam kehidupan beragama, pappaseng ini juga memiliki makna yang mendalam. Setiap ajaran agama pada dasarnya menekankan pentingnya kejujuran, kebenaran, dan keteguhan dalam menjalankan ajaran agama. Orang yang beriman sejati tidak hanya teguh dalam keyakinannya, tetapi juga harus memastikan bahwa keyakinan tersebut berlandaskan pada kebenaran yang sejati dan kejujuran dalam beribadah serta berinteraksi dengan sesama manusia.
Secara filosofis, pappaseng ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia harus memiliki hierarki nilai yang jelas. Kekuatan bukanlah hal utama, tetapi harus berada di bawah keteguhan, kebenaran, dan kejujuran. Dalam dunia yang sering kali mengagungkan kekuatan dan kekuasaan, pappaseng ini mengingatkan bahwa tanpa keteguhan, kebenaran, dan kejujuran, kekuatan tersebut hanya akan menjadi alat penindasan dan kehancuran.
Dengan memahami dan mengamalkan pappaseng ini dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menjadi individu yang kuat, tetapi tetap berada dalam koridor moral dan etika yang benar. Kejujuran, kebenaran, dan keteguhan bukan hanya nilai-nilai ideal, tetapi juga harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan agar tercipta masyarakat yang adil, harmonis, dan sejahtera.