Demokrasi Akal Bulus

Demokrasi Akal Bulus

Demokrasi katanya suara rakyat,
Tempat akal budi merajut hikmat,
Namun di tangan mereka yang licik dan lihai,
Ia menjelma sekadar ilusi damai.

Kejujuran dulu jadi pedoman,
Kini berubah jadi barang langka,
Di balik janji dan sumpah setia,
Tersembunyi kepentingan yang saling berlaga.

Pemilu bukan lagi pesta demokrasi,
Melainkan ajang tipu daya dan strategi,
Bukan visi yang dinilai rakyat,
Tapi citra yang direkayasa lewat layar dan debat.

Hukum mestinya tegak berdiri,
Tapi di tangan penguasa ia sering berlari,
Menjerat yang lemah, melepaskan yang kuat,
Mereka yang punya kuasa, tak tersentuh aparat.

Media pun tak lagi merdeka,
Tergadai oleh kepentingan yang berkuasa,
Berita diolah jadi narasi semu,
Mengarahkan rakyat pada realitas palsu.

Musyawarah hanya jadi formalitas,
Keputusan diambil di ruang gelap,
Rakyat seolah diberi suara,
Padahal sekadar angka dalam pesta.

Politisi datang dengan wajah berseri,
Berbicara manis seolah peduli,
Tapi saat kekuasaan telah digenggam,
Rakyat kembali ditinggalkan.

Akal bulus terus merajalela,
Membungkam yang kritis, menyesatkan logika,
Demokrasi berubah jadi permainan,
Di mana yang jujur hanya jadi korban.

Namun harapan tak boleh padam,
Akal budi harus tetap menjulang,
Sebab demokrasi sejati bukan soal kuasa,
Tapi kebijaksanaan yang menjaga bangsa