Pemikiran Syekh Badiuzzaman Said Nursi

Disadur ulang : Dr. Muslihin Sultan, M. Ag

*Kerapian Dan Kesempurnaan Entitas Menunjukkan Sang Wajibul Wujud*

*Jendela Keempat*

Bagian ini membahas tentang pengabulan Tuhan atas semua doa yang terucap lewat lisan potensi benih, lisan kebutuhan hewan, serta lisan keterdesakan umat manusia. Ya, pengabulan atas semua doa yang jumlahnya tak terhingga terwujud secara konkret dan jelas yang dapat kita saksikan dengan mata kepala. Sebagaimana masing-masingnya mengarah kepada Sang _wajibul wujud_ dan keesaan-Nya, semua bentuk pengabulan tersebut secara jelas juga menunjukkan keberadaan Sang Pencipta Yang Maha Pengasih, Pemurah, dan Maha Mengabulkan, serta bagaimana semua pandangan tertuju pada-Nya.

*Jendela Kelima*

Jika kita cermati segala sesuatu, terutama makhluk hidup, kita saksikan seakan-akan ia keluar dari tangan penciptaan dan menuju alam wujud secara tiba-tiba. Nah, biasanya segala sesuatu yang terbentuk secara seketika dan tergesa-gesa, hasilnya biasa saja dan bentuknya tidak beraturan, namun kenyataannya kita melihatnya tercipta dengan rapi dan sempurna dimana kerapian dan kesempurnaan ini menuntut adanya kemahiran yang luar biasa. Kita juga melihatnya tampil dalam ukiran yang memancarkan keindahan dan bentuk yang menyiratkan kecermatan di mana keindahan dan kecermatan itu biasanya membutuhkan kesabaran yang kuat dan waktu yang panjang.

Kita melihatnya terwujud dalam satu hiasan yang mewah dan kecantikan yang memesona; satu hal yang menuntut keberadaan sejumlah perangkat dekorasi yang banyak dan beragam. Kesempurnaan yang menakjubkan, bentuk yang indah, model yang tertata, kreasi yang seketika, semua itu menjadi bukti atas keberadaan Sang Pencipta Yang Mahabijak sekaligus menunjukkan keesaan _rububiyah_-Nya. Sebagaimana secara keseluruhan menjelaskan dengan gamblang akan Dzat yang wajib ada, Yang Mahakuasa dan Mahabijak, serta menunjukkan keesaan-Nya. Wahai orang yang lalai terhadap Tuhannya, dan orang yang kebingungan dalam melihat kondisi entitas!

Bagaimana engkau dapat menjelaskan dan menafsirkan semua ini? Apakah engkau akan menafsirkannya dengan hukum alam yang lemah, dungu, dan bodoh? Atau, dengan kebodohanmu engkau ingin melakukan kesalahan tak bertepi sehingga memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada alam dan menisbatkan kepadanya sejumlah mukjizat _qudrah_ Ilahi yang suci dari segala kekurangan sehingga dengan begitu engkau melakukan seribu satu kemustahilan?

Badiuzzaman Said Nursi, *Jendela Tauhid*, h. 10-12