Alasan Pemakaman Arung Palakka Di Bontobiraeng

Alasan Pemakaman Arung Palakka Di Bontobiraeng

Oleh:Zaenuddin Endy
*Direktur Pangadereng Institut (PADI)*

Arung Palakka merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Sulawesi Selatan pada abad ke-17. Ia dikenal sebagai raja Bone yang berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa dengan bantuan Belanda dalam Perang Makassar (1666-1669). Keberhasilannya mengalahkan Gowa menjadikan Bone sebagai kerajaan paling berkuasa di Sulawesi Selatan pada masanya. Namun, meskipun ia adalah penguasa Bone, makamnya justru berada di Bontobiraeng, wilayah Kerajaan Gowa. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa seorang raja Bone tidak dimakamkan di tanah kelahirannya sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Nurlindayani (2015) dalam karyanya “Kematian dan Pemakaman La Tenritatta Arung Palakka di Bontobiraeng Kerajaan Gowa (1696)” mengungkapkan bahwa pemilihan lokasi pemakaman Arung Palakka bukanlah suatu kebetulan. Salah satu alasan utama adalah adanya pesan atau wasiat yang ditinggalkan oleh Arung Palakka sebelum wafat. Wasiat tersebut menyatakan bahwa dirinya ingin dimakamkan di wilayah Gowa. Hal ini menunjukkan bahwa Arung Palakka memiliki pertimbangan khusus mengenai tempat peristirahatan terakhirnya.

Selain itu, hubungan kekeluargaan juga menjadi faktor penting dalam keputusan ini. Istri kedua Arung Palakka, Imengkawani Daeng Talele, merupakan adik dari Sultan Hasanuddin, penguasa Gowa yang pernah menjadi lawannya dalam Perang Makassar. Hubungan pernikahan ini menciptakan ikatan darah antara kedua kerajaan yang sebelumnya bermusuhan. Oleh karena itu, pemakaman Arung Palakka di Gowa dapat dilihat sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan kekerabatan tersebut.

Keputusan untuk dimakamkan di Gowa juga mencerminkan rekonsiliasi antara Bone dan Gowa setelah bertahun-tahun berkonflik. Perang Makassar yang berlangsung selama beberapa tahun telah menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Dengan dimakamkannya Arung Palakka di Gowa, hal ini menunjukkan bahwa perselisihan antara dua kerajaan besar ini telah berakhir dan perdamaian telah terjalin. Ini juga dapat diartikan sebagai simbol persatuan antara dua kekuatan besar di Sulawesi Selatan.

Selain itu, pemilihan tempat pemakaman ini juga bisa berkaitan dengan kondisi politik pada masa itu. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki banyak musuh, pemakaman di wilayah netral atau bahkan bekas lawan bisa menjadi strategi untuk menghindari kemungkinan konflik di masa depan. Jika Arung Palakka dimakamkan di Bone, ada kemungkinan pihak-pihak tertentu akan menggunakan makamnya sebagai simbol untuk kembali memunculkan perlawanan terhadap Gowa atau Belanda.

Faktor budaya juga turut mempengaruhi keputusan ini. Dalam tradisi Bugis-Makassar, penghormatan terhadap pemimpin yang telah wafat sangatlah penting. Memakamkan Arung Palakka di Gowa bisa diartikan sebagai bentuk penghormatan dari rakyat Gowa terhadap seseorang yang meskipun pernah menjadi musuh, tetapi tetap diakui sebagai sosok yang berjasa dalam sejarah. Selain itu, masyarakat Gowa sendiri pada akhirnya menerima kehadiran Arung Palakka sebagai bagian dari sejarah mereka.

Selain itu, pemilihan Bontobiraeng sebagai lokasi makam juga memiliki makna simbolis. Bontobiraeng merupakan wilayah yang memiliki nilai historis bagi Kerajaan Gowa, sehingga pemakaman seorang tokoh besar di sana semakin mengukuhkan daerah tersebut sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa Arung Palakka tidak hanya diakui oleh rakyat Bone, tetapi juga oleh masyarakat Gowa.

Kemungkinan lain yang dapat dipertimbangkan adalah adanya peran Belanda dalam pemilihan lokasi makam. Sebagai sekutu Arung Palakka dalam perang, Belanda mungkin memiliki kepentingan untuk memastikan bahwa makamnya berada di tempat yang tidak memicu ketegangan baru. Gowa, yang sudah takluk pada saat itu, bisa dianggap sebagai tempat yang lebih aman dibandingkan Bone, yang masih memiliki dinamika politik internal yang kuat.

Dari sudut pandang spiritual, pemakaman Arung Palakka di Gowa juga bisa dikaitkan dengan keyakinan masyarakat Bugis-Makassar tentang tempat peristirahatan terakhir yang damai. Sebagai seorang raja yang banyak berperang sepanjang hidupnya, pemakaman di tempat yang dianggap netral atau bahkan di wilayah bekas musuh bisa menjadi simbol bahwa ia telah menemukan kedamaian setelah wafat.

Sementara itu, dari perspektif historiografi, pemakaman Arung Palakka di Gowa juga memberi pelajaran penting mengenai bagaimana sejarah tidak hanya dibentuk oleh pertempuran dan kekuasaan, tetapi juga oleh perdamaian dan rekonsiliasi. Dengan memilih Gowa sebagai tempat peristirahatan terakhirnya, Arung Palakka seolah ingin menunjukkan bahwa di akhir hidupnya, persatuan lebih penting daripada perpecahan.

Pemilihan lokasi pemakaman ini juga memperlihatkan karakter Arung Palakka sebagai seorang pemimpin yang visioner. Ia tidak hanya memikirkan kejayaannya semasa hidup, tetapi juga bagaimana ia dikenang setelah wafat. Dengan dimakamkan di Gowa, ia meninggalkan pesan bahwa perseteruan masa lalu tidak boleh menjadi penghalang bagi perdamaian di masa depan.

Pemakaman Arung Palakka di Bontobiraeng, Gowa, bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari berbagai pertimbangan yang mencakup wasiat pribadi, hubungan kekeluargaan, rekonsiliasi politik, faktor budaya, dan kepentingan Belanda. Pemakaman ini menjadi simbol perdamaian antara Bone dan Gowa serta mencerminkan upaya untuk meninggalkan warisan yang lebih besar dari sekadar kemenangan perang, yaitu warisan persatuan dan keharmonisan di Sulawesi Selatan.

Wallahu A’lam Bissawab