KH. Rabe Baddulu: Jejak Muassis NU Pinrang
KH. Rabe Baddulu merupakan salah satu ulama berpengaruh yang tercatat dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pinrang. Lahir sekitar tahun 1900 di Langnga, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga petani dan pemilik tanah yang cukup terpandang. Kondisi sosial ekonomi keluarganya memberikan kesempatan besar baginya untuk menuntut ilmu agama sejak usia muda. Sejak kecil, ia menunjukkan kecenderungan kuat pada pengetahuan keagamaan, sehingga orang tuanya mengirimnya berguru ke sejumlah ulama terkemuka.
Pendidikan awalnya ditempuh di Pulau Salemo, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat pembelajaran Islam. Di sana, ia menimba ilmu dari beberapa guru, termasuk seorang ulama bernama Puang Walli yang wafat pada tahun 1940. Dari guru-guru tersebut, ia mendalami fikih, tauhid, dan tasawuf, yang kelak membentuk corak keilmuan sekaligus pandangan keagamaannya yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Perjalanan intelektualnya tidak berhenti di Salemo, karena semangat menuntut ilmunya membawanya jauh hingga ke Tanah Suci.
Sekitar awal 1930-an, KH. Rabe berangkat ke Mekah bersama ayahnya. Di kota suci ini, ia bertemu dan menjalin persahabatan dengan sejumlah perantau asal Bugis yang sudah lebih dahulu bermukim di sana. Hubungan korespondensi dengan tokoh-tokoh seperti Abdul Latif dan Syekh Ismail Thaleb Boegis semakin memperkaya wawasannya, baik dari sisi agama maupun budaya. Bahkan, surat-menyurat antara dirinya dan para sahabatnya itu sering kali disertai dengan pengiriman kitab maupun barang-barang khas Bugis, yang menjadi bukti eratnya jaringan ulama dan perantau Bugis di Mekah.
Sepulang dari Tanah Suci, KH. Rabe Baddulu tidak tinggal diam. Ia mulai menulis sejumlah karya, salah satunya adalah manuskrip fikih yang kemudian dikenal luas di masyarakat dengan judul Paccapuran Araba’ Doa-doa. Kitab sederhana ini dicetak secara manual dan didistribusikan di kampung-kampung, sehingga hampir setiap rumah di Langnga memilikinya. Peran literasi keagamaan yang dimainkan oleh KH. Rabe sangat penting, sebab manuskrip ini menjadi sumber rujukan utama masyarakat dalam melaksanakan ibadah sehari-hari.
Selain menulis, ia aktif mengajarkan ilmu agama melalui forum pengajian yang dikenal sebagai mangngaji tudang. Pengajian ini diadakan baik di rumah maupun di masjid, dengan cara duduk bersama untuk mendalami kitab. Model pengajaran semacam ini bukan hanya memperkuat basis keilmuan masyarakat, tetapi juga menciptakan kedekatan emosional antara ulama dan jamaah. KH. Rabe tampil bukan sekadar sebagai guru, melainkan juga sebagai sosok rujukan moral dan spiritual.
Dalam konteks sosial-keagamaan, KH. Rabe dikenal sebagai pembela ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan tradisi keagamaan yang identik dengan NU. Ia tidak segan menegur atau bahkan berkonfrontasi dengan kelompok yang menentang praktik-praktik seperti qunut dan barzanji. Sikap kerasnya ini lahir dari keyakinan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar ritual, melainkan sarana memperkuat identitas keagamaan masyarakat. Dari sini tampak bahwa dirinya adalah figur yang teguh menjaga warisan Islam tradisional di Pinrang.
Ketika Jepang menduduki Indonesia, KH. Rabe juga menunjukkan keberaniannya. Ia mendorong para pemuda Langnga untuk tidak tunduk begitu saja pada kekuasaan Jepang. Bahkan, salah seorang muridnya, KH. Ahmad, menjadi tokoh yang berani melakukan perlawanan langsung terhadap penjajah. Dari peristiwa ini, terlihat bahwa perjuangan KH. Rabe tidak hanya terbatas pada bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga merambah ke ranah perlawanan politik.
Rumah KH. Rabe juga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan masyarakat pada masa penjajahan. Ketika patroli tentara Belanda lewat, orang-orang sering bersembunyi di rumahnya karena dianggap aman. Hal ini menunjukkan posisi strategis KH. Rabe di mata masyarakat, bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai pelindung dan tokoh panutan. Kehadirannya benar-benar memberikan rasa aman di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Memasuki tahun 1960-an, KH. Rabe semakin aktif dalam dunia organisasi. Ia tercatat sebagai salah satu penggagas berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Pinrang. Langkah ini sejalan dengan visi besarnya untuk mengorganisasi kekuatan Islam tradisional agar lebih terstruktur dan mampu menghadapi tantangan zaman. Kehadiran NU di Pinrang menjadi tonggak penting dalam perkembangan gerakan Islam moderat di daerah tersebut.
Selain itu, KH. Rabe juga terlibat dalam dunia pendidikan. Ia memiliki kedekatan dengan sekolah-sekolah DDI (Darud Da’wah wal Irsyad) yang berkembang di wilayahnya. Bahkan, ia menduduki posisi penting dalam urusan keuangan lembaga pendidikan tersebut. Hal ini membuktikan komitmennya untuk membangun generasi muda yang memiliki basis keilmuan agama yang kuat. Dukungan terhadap lembaga pendidikan menjadi warisan lain yang sangat berharga dari sosoknya.
Wafat sekitar tahun 1966, KH. Rabe Baddulu meninggalkan jejak yang mendalam di Pinrang. Masyarakat mengenangnya sebagai seorang ulama, penulis, guru, sekaligus pejuang. Karya tulisnya masih digunakan hingga beberapa dekade setelah wafatnya, sementara pengaruh pengajiannya tetap membekas dalam memori kolektif masyarakat Langnga dan sekitarnya. Kehidupan KH. Rabe menjadi gambaran bagaimana seorang ulama mampu memadukan peran spiritual, sosial, dan politik.
Warisan KH. Rabe Baddulu tidak berhenti pada karya-karya tulis maupun pengajiannya, tetapi juga pada lembaga yang didirikannya. NU Pinrang yang ia gagas menjadi wadah perjuangan umat Islam tradisional hingga kini. Dari perannya, terlihat jelas bahwa keberadaan NU di Pinrang tidak bisa dilepaskan dari inisiatif dan pengorbanan seorang ulama kampung yang berpikir jauh ke depan.
Keteguhannya membela tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, keberanian melawan penjajah, komitmen terhadap pendidikan, serta peran sebagai penggagas NU, menjadikan KH. Rabe Baddulu sebagai salah satu figur sentral dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Jejaknya bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan teladan yang relevan hingga hari ini, ketika masyarakat masih berjuang menegakkan nilai-nilai keislaman yang ramah, moderat, dan membumi.
Dengan demikian, KH. Rabe Baddulu bukan hanya sekadar ulama lokal, tetapi tokoh besar yang kontribusinya mewarnai sejarah perjuangan umat Islam di Pinrang. Ia telah menorehkan jejak yang abadi sebagai seorang muassis NU, sekaligus simbol dari kekuatan ulama dalam menjaga tradisi, memperjuangkan kebenaran, dan mendidik generasi penerus bangsa. Namanya layak terus dikenang dan dijadikan inspirasi bagi umat Islam, khususnya warga NU di Sulawesi Selatan.