Jejak KH. Baso Bonto Bahari: Ulama Kampung Pesisir, Penjaga Tradisi Keilmuan Islam di Bulukumba

KH. Baso Bonto Bahari adalah salah satu ulama penting di Bulukumba yang hidup pada masa yang relatif sezaman dengan KH. Mustari Tiro, sekitar pertengahan abad ke-20. Ia dikenal sebagai sosok ulama kampung yang alim, sederhana, dan sangat dihormati di kalangan masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Bonto Bahari yang terletak di bagian selatan Kabupaten Bulukumba. Bonto Bahari dikenal sebagai daerah pesisir yang masyarakatnya kuat memegang adat, tradisi maritim, dan religiusitas Islam yang sederhana.

KH. Baso lahir di wilayah pesisir Bonto Bahari pada awal abad ke-20 dari keluarga nelayan yang taat beragama. Sejak kecil, ia telah menunjukkan kecintaan besar pada ilmu agama. Ia belajar agama secara tradisional dari beberapa ulama kampung di Bulukumba, lalu melanjutkan belajar kitab kuning di pesantren-pesantren Bugis-Makassar, terutama yang berafiliasi dengan jaringan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah. Selain mendalami fikih, tauhid, dan akhlak, KH. Baso juga dikenal memiliki pemahaman yang kuat di bidang ilmu falak (hisab penentuan awal bulan Ramadan dan Syawal).

Di masa mudanya, KH. Baso aktif mengikuti pengajian-pengajian tarekat dan memperkuat jaringan intelektual keulamaannya dengan para tokoh agama dari Sinjai, Bantaeng, hingga Jeneponto. Dengan bekal keilmuan yang kuat, ia kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan diri melalui pengajaran agama kepada masyarakat nelayan dan petani pesisir.

KH. Baso dikenal luas sebagai ulama yang mengedepankan pendidikan agama melalui pengajian kampung, baik yang bersifat nonformal (pengajian malam, barzanji, tahlilan) maupun formal melalui madrasah diniyah yang dikelola masyarakat setempat. Ia rajin mengajarkan kitab kuning dasar seperti Safinatun Najah, Taqrib, Sullam Taufiq, dan kitab akhlak lainnya. KH. Baso sangat dihormati karena kedalaman ilmunya dalam fikih dan falakiyah. Masyarakat pesisir Bonto Bahari sering meminta pandangannya terkait penentuan arah kiblat, hisab bulan, serta hukum waris, muamalah, dan persoalan fikih praktis lainnya.

Selain mendidik masyarakat awam, KH. Baso juga menjadi rujukan bagi guru-guru mengaji, imam masjid, dan tokoh adat setempat. Ia dikenal sebagai sosok yang sabar, tidak banyak bicara, tetapi kuat dalam memberikan nasihat yang lembut dan menyejukkan hati. Dakwahnya menekankan keseimbangan antara syariat, akhlak, dan adat lokal Bugis-Makassar, sehingga mudah diterima oleh masyarakat yang umumnya hidup dalam tradisi maritim.

Meski tidak tercatat secara formal sebagai pengurus inti NU, KH. Baso Bonto Bahari merupakan tokoh informal yang sangat mendukung gerakan NU di Bulukumba, terutama dalam penguatan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayah pesisir. Ia aktif menghubungkan masyarakat dengan ulama NU pusat Bulukumba, seperti KH. Mustari Tiro dan KH. Hasyim Bontotiro. Ia berperan penting menjaga agar tradisi keagamaan di kampung nelayan tetap lurus di jalur akidah Aswaja, menolak ajaran-ajaran yang menyimpang, baik dari aliran keras maupun modernis yang ekstrem.

KH. Baso sering menjadi penengah dalam persoalan sosial masyarakat pesisir, terutama terkait sengketa waris, muamalah, maupun adat perkawinan. Ia selalu menekankan pentingnya beragama dengan akhlak, menghormati leluhur, dan menjaga harmoni sosial. Tidak sedikit tokoh masyarakat dan generasi muda yang kemudian tumbuh menjadi guru ngaji, imam masjid, atau tokoh NU lokal setelah menimba ilmu dan akhlak darinya.

KH. Baso wafat sekitar akhir 1980-an hingga awal 1990-an, dimakamkan di kawasan Bonto Bahari, di tengah komunitas masyarakat yang selama hidupnya ia bimbing dengan kesabaran dan ilmu. Meskipun tidak meninggalkan karya tulis, warisan pengajiannya tetap hidup melalui santri kampung, madrasah kecil, serta tradisi keagamaan masyarakat pesisir yang ia rawat dengan penuh cinta. Banyak masjid di pesisir Bulukumba hari ini masih meneruskan tradisi tahlilan, yasinan, dan pengajian kitab kuning yang bersambung sanadnya kepada KH. Baso.

Jejak KH. Baso Bonto Bahari menunjukkan bahwa kekuatan Islam di Bulukumba bukan hanya tumbuh di pusat kota atau pesantren besar, melainkan juga di kampung-kampung pesisir yang dijaga oleh ulama alim nan bersahaja. Ia adalah bagian penting dari rantai ulama lokal yang menjaga warisan Islam yang ramah, berakhlak, dan bersentuhan dengan kearifan lokal. Peran KH. Baso menjadi teladan bahwa dakwah Islam yang sederhana, istiqamah, dan sabar bisa bertahan melintasi generasi, bahkan tanpa riuh nama besar.