Tasawuf dalam Sunyi
Oleh: Zaenuddin Endy
Koordinator LTN Sulawesi Selatan
Ada sebuah pesan masyhur leluhur Bugis yang menyimpan kedalaman makna sufistik: “Sappai temmakisadda, temmakehurufu, tennaleppa lila, tennairing anging.” Carilah sesuatu yang tak bersuara, tak berhuruf, tak terucap oleh lidah, dan tak terhembus oleh angin.
Pesan ini bukan sekadar rangkaian kata-kata simbolik. Ia adalah ungkapan untuk menempuh perjalanan ke dalam diri, menembus batas-batas pengetahuan yang hanya berhenti pada bacaan, melampaui pemahaman yang hanya berputar di ruang diskusi, dan menyelami rahasia yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh bahasa.
Selama ini, banyak pencari hakikat menggenjot diri dengan membaca buku-buku tasawuf, menelaah pemikiran para sufi, mengikuti majelis ilmu, serta berdiskusi panjang tentang makrifat, hakikat, dan rahasia ketuhanan. Semua itu penting. Buku membuka jalan, guru menunjukkan arah, dan diskusi menajamkan pemahaman. Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: membaca tentang tasawuf tidak selalu berarti telah menempuh jalan tasawuf. Memahami kata-kata para sufi tidak serta-merta membuat seseorang mengalami kedalaman yang mereka maksudkan.
Tasawuf bukan hanya sesuatu yang dipelajari, tetapi juga sesuatu yang harus dilakoni. Di sinilah pesan leluhur Bugis tersebut menemukan relevansinya. Sappai temmakisadda, carilah yang tak bersuara. Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk mendengarkan suara pikiran sendiri, memperdebatkan pendapat orang lain, dan mengumpulkan penjelasan tentang Tuhan, hingga lupa menyediakan ruang sunyi untuk mendekat kepada-Nya. Kita begitu fasih berbicara tentang keheningan, tetapi belum tentu mampu mendiamkan kegaduhan di dalam diri.
Padahal, sunyi bukan sekadar ketiadaan suara. Sunyi adalah keadaan ketika ego tidak lagi mendominasi kesadaran; ketika keinginan untuk diakui mulai mereda; ketika hati tidak lagi sibuk mempertahankan kebesaran diri. Dalam sunyi semacam itu, seseorang belajar mendengarkan sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh telinga jasmani.
Temmakehurufu, yang tak berhuruf. Tidak semua pengetahuan dapat dipadatkan menjadi tulisan, tidak semua pengalaman batin dapat dipindahkan ke dalam kalimat, dan tidak semua rahasia dapat disampaikan melalui lembaran kitab. Ada pengetahuan yang dapat dijelaskan, tetapi ada pula pengalaman yang hanya dapat didekati melalui latihan, penyucian jiwa, dan kesungguhan menjalani laku spiritual.
Kitab-kitab tasawuf dapat menjelaskan maqamat dan ahwal, membicarakan fana dan baqa, serta menguraikan perjalanan menuju makrifat. Akan tetapi, penjelasan tentang sabar tidak otomatis menjadikan seseorang penyabar. Pengetahuan tentang ikhlas tidak dengan sendirinya membebaskan hati dari pamrih. Demikian pula, kefasihan berbicara tentang kerendahan hati tidak menjamin seseorang telah terbebas dari kesombongan.
Sebab, mengetahui nama sebuah maqam berbeda dengan menjalani maqam itu sendiri.
Tennaleppa lila, yang tak terucap oleh lidah. Ada pengalaman batin yang membuat seseorang kehabisan kata-kata, bukan karena tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena menyadari keterbatasan bahasa dalam mengungkapkan kedalaman pengalaman. Lidah mungkin mampu menguraikan teori tentang cinta, tetapi pengalaman mencintai memiliki dimensinya sendiri. Kata-kata dapat menjelaskan kerinduan kepada Tuhan, tetapi kerinduan yang sungguh-sungguh harus menemukan bentuknya dalam kehidupan.
Karena itu, semakin jauh seseorang berjalan dalam tasawuf, semestinya semakin berhati-hati pula ia menggunakan kata-kata. Bukan berarti ia harus berhenti berbicara atau menganggap ilmu tidak penting. Justru, ia memahami bahwa kata-kata adalah sarana, bukan tujuan; peta, bukan perjalanan; penunjuk arah, bukan tempat yang dituju.
Lalu, tennairing anging, yang tak terhembus oleh angin. Sebuah ungkapan yang mengajak kita merenungkan sesuatu yang begitu halus, tak kasatmata, dan tidak mudah ditangkap oleh indra. Dalam perjalanan spiritual, manusia diajak menyadari bahwa kenyataan tidak selalu berhenti pada apa yang tampak. Namun, kesadaran ini bukan alasan untuk mengarang rahasia atau mengklaim telah mencapai maqam tertentu. Ia justru menuntut kerendahan hati, kedisiplinan batin, dan kesadaran akan keterbatasan diri di hadapan Allah.
Di titik ini, pesan leluhur Bugis bertemu dengan semangat tasawuf: pencarian tidak cukup dilakukan dengan memperluas pengetahuan, tetapi juga harus disertai pembenahan diri. Bukan hanya menambah bacaan, melainkan mengurangi kesombongan. Bukan hanya memperbanyak perdebatan, melainkan melatih kesabaran. Bukan hanya membicarakan makrifat, melainkan membersihkan hati dari segala sesuatu yang menghalangi kedekatan kepada Allah.
Tentu saja, jalan ini bukan ajakan meninggalkan kitab, guru, atau majelis ilmu. Tasawuf yang kehilangan ilmu dapat terjerumus ke dalam kesalahpahaman, sedangkan ilmu yang tidak membentuk akhlak berisiko menjadi sekadar kebanggaan intelektual. Keduanya perlu berjalan beriringan: ilmu memberikan arah, adab menjaga langkah, dan latihan spiritual mendidik jiwa agar pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana.
Mungkin, yang perlu kita pertanyakan bukan lagi berapa banyak buku tasawuf yang telah dibaca, berapa banyak istilah sufi yang telah dikuasai, atau berapa panjang diskusi tentang hakikat yang telah diikuti. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah: sejauh mana semua itu mengubah cara kita memandang kehidupan? Apakah kita menjadi lebih ikhlas, lebih sabar, lebih tawaduk, lebih jujur, dan lebih mampu mengendalikan hawa nafsu? Ataukah kita hanya semakin pandai menjelaskan perjalanan yang sesungguhnya belum kita tempuh?
Sebab, perjalanan menuju kedalaman tidak selalu ditandai oleh bertambahnya kata-kata. Adakalanya ia ditandai oleh berkurangnya keinginan untuk dipuji, melemahnya dorongan untuk merasa paling benar, dan tumbuhnya kesadaran bahwa diri ini masih harus terus dibenahi.
Dalam khazanah laku Bugis, kita mengenal istilah akkareso, bersungguh-sungguh melatih dan menempa diri. Di sinilah pesan itu menemukan bentuk praktisnya. Pencarian bukan hanya kegiatan membaca dan berpikir, melainkan juga keberanian menghadapi diri sendiri, mendisiplinkan hawa nafsu, memperbaiki niat, memperbanyak zikir, menjaga adab, dan menghidupkan ilmu dalam tindakan sehari-hari.
Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk mencari rahasia di dalam buku, padahal diri sendiri belum selesai kita selami. Kita mencari kalimat-kalimat tinggi tentang Tuhan, tetapi terkadang masih kesulitan menundukkan ego di hadapan sesama manusia. Kita berbicara tentang penyucian hati, tetapi belum sungguh-sungguh memeriksa penyakit yang bersembunyi di dalamnya.
Maka, sappai temmakisadda, temmakehurufu, tennaleppa lila, tennairing anging menjadi pengingat bahwa ada perjalanan yang tidak dapat diwakilkan oleh bacaan, tidak dapat dituntaskan oleh perdebatan, dan tidak dapat dibuktikan hanya dengan kefasihan berbicara.
Bacalah kitab, tetapi jangan berhenti pada hurufnya. Dengarkan guru, tetapi jangan hanya mengumpulkan kata-katanya. Bicarakan tasawuf, tetapi jangan lupa melakoninya.
Sebab, yang dicari bukanlah sekadar pengetahuan tentang jalan, melainkan perubahan diri melalui perjalanan itu sendiri. Dan dalam perjalanan tersebut, semakin dalam seseorang menyelami dirinya, semestinya semakin ia menyadari betapa luas rahasia Allah dan betapa terbatas kemampuan manusia untuk menjangkaunya.
Mungkin kita perlu mengurangi kegaduhan di luar agar lebih tekun mendidik batin di dalam. Bukan untuk merasa telah menemukan rahasia, melainkan agar menjadi pencari yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bersungguh-sungguh dalam penghambaan.
Sebab, tidak semua yang berharga bersuara, tidak semua yang mendalam berhuruf, tidak semua yang benar dapat dituntaskan oleh ucapan, dan tidak semua yang nyata harus dapat ditangkap oleh indra.
Carilah yang tak bersuara. Selamilah yang tak berhuruf. Latihlah diri untuk memahami yang tak terucap. Dan berjalanlah dengan rendah hati menuju-Nya, sebab tasawuf bukan sekadar perkara mengetahui, melainkan perkara menjadi.
*Wallahu A’lam Bissawab*