Sibuk Bukan Berarti Produktif: Ketika Ambisi Tanpa Batas Berubah Menjadi Racun

Penulis: Hiya Azkiyah Adhar

Di tengah arus kehidupan modern, kesibukan sering kali dianggap sebagai indikator utama produktivitas. Orang-orang berlomba terlihat sibuk dengan memenuhi jadwal mereka melalui berbagai aktivitas, hingga terkadang lupa bahwa tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda. Dari kondisi inilah muncul salah satu fenomena yang dikenal sebagai toxic productivity. Toxic productivity merupakan kondisi ketika seseorang merasa harus terus melakukan berbagai hal agar tetap produktif, bahkan merasa bersalah ketika meluangkan waktu untuk beristirahat. Pemahaman tersebut sejalan dengan Hamidah, dkk. (2026) yang menjelaskan bahwa toxic productivity merupakan dorongan irasional untuk terus bekerja melampaui batas kewajaran disertai rasa bersalah yang mendalam ketika individu mencoba untuk beristirahat. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa persoalan toxic productivity tidak hanya berkaitan dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dengan munculnya tekanan dalam diri untuk terus bekerja tanpa mempertimbangkan batas kewajaran. Dorongan tersebut dapat membuat seseorang sulit membedakan antara produktivitas sehat dan kesibukan yang justru menjadi beban bagi dirinya. Jadi, toxic productivity ini adalah fenomena ketika seseorang berusaha untuk tetap produktif, tetapi melampaui batas kemampuan dirinya hingga menimbulkan tekanan dan rasa bersalah ketika beristirahat.

Kemudian, masalahnya bukan terletak kepada keinginan untuk menjadi produktif, melainkan pada seberapa mampu kita mengendalikan dan menetapkan batas terhadap produktivitas itu sendiri. Ramadhina, dkk. (2023) berpendapat toxic productivity bukan   hanya   soal   kerja   keras, tetapi   juga ketidakmampuan untuk berhenti demi kesehatan yang baik. Gejalanya terlihat saat muncul perasaan bersalah yang sangat mendalam ketika mereka mengambil waktu untuk beristirahat untuk tidak mengerjakan tugas akademik (Asmansyah, 2026). Ketika kesibukan mulai menguasai diri, waktu untuk melakukan hal sederhana seperti menonton film di bioskop pun dapat terasa sebagai pemborosan. Bahkan, ketika pekerjaan yang dilakukan belum tentu memberikan hasil yang memuaskan. Pada titik ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri: “Apakah semua yang kita lakukan benar-benar untuk meningkatkan nilai diri, atau hanya karena takut dianggap malas oleh orang lain?” Sebab, produktivitas yang tidak terkendali justru dapat menjadi tekanan yang perlahan menghilangkan kendali kita atas diri sendiri.

Menurut Tsalbita, dkk. (2023), toxic productivity salah satunya terjadi karena pengaruh media sosial sebagai tempat penyebaran dan penerimaan konten-konten prestasi yang diekspresikan seseorang. Konten tersebut kemudian dikonsumsi oleh remaja usia produktif, sehingga dapat menimbulkan motivasi untuk menyamai orang tersebut. Bahkan, melampaui pencapaian orang lain karena adanya ketakutan tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out). Selain itu, Hamidah, dkk. (2026) menyatakan bahwa tuntutan profesional dan akademik yang tinggi dapat menciptakan beban ganda yang membuat seseorang terjebak dalam pola pikir produktivitas yang toksik. Dorongan untuk terus melakukan sesuatu tersebut pada akhirnya dapat membuat seseorang sulit memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk berhenti dan beristirahat.

Toxic productivity bukan sekadar bekerja keras, melainkan kegagalan seseorang dalam menetapkan batasan diri. Ketika kesibukan dijadikan tolok ukur utama nilai diri, istirahat yang sejatinya menjadi kebutuhan dasar justru memicu rasa bersalah. Batas wajar pun kabur, digantikan oleh pemaksaan fisik dan mental yang terus-menerus menggerogoti. Kondisi ini makin parah akibat gempuran konten pencapaian di media sosial dan tingginya tuntutan lingkungan. Ketakutan akan stigma malas mendorong seseorang terus beraktivitas demi pembuktian sosial. Namun, kesibukan tanpa batas ini berujung fatal: burnout, kelelahan kronis, dan hilangnya kendali atas kualitas hidup demi validasi yang semu. Sejalan dengan itu, Asa (2022) mengatakan, toxic productivity dapat menimbulkan stres, kelelahan kronis, gangguan tidur, serta penurunan kualitas hubungan interpersonal (Cahyaningrum, dkk., 2025). Dengan demikian, dampak yang ditimbulkan dari fenomena ini di antaranya burnout, gangguan kesehatan fisik, penurunan produktivitas secara umum, dan penurunan kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, kita harus berani menolak Toxic Productivity. Memaksa diri untuk terus bekerja dan mencari validasi bukanlah sebuah prestasi, melainkan ancaman bagi kesehatan fisik dan juga mental. Kita harus mampu mengambil kendali atas diri sendiri, menerapkan pola produktivitas yang sehat, serta menghargai dan menerapkan batasan-batasan atas diri sendiri.

 

 

 

 

 

 

error: Content is protected !!